Anggodo dan Eksklusifivitas Televisi
Sebuah kejutan hadir 2 hari lalu (3/11), ketika Anggodo Wijoyo hadir di TVOne untuk diwawancarai seputar transkrip rekaman yang diputar di sidang MK siang harinya, rekaman yang untuk pertama kalinya diperdengarkan ke hadapan publik ini sangat mencengangkan karena melibatkan nama-nama beberapa pejabat negara, bahkan nama SBYpun disebutkan dalam rekaman tersebut.
Usai wawancara di TVOne itu, Anggodo sudah ditunggu wartawan dari media lain dan kepolisian, dari sinilah kehebohan dimulai karena setelah konferensi pers dengan berbagai media tersebut, Anggodo dijemput oleh Polisi menuju Mabes Polri dan menjalani pemeriksaan terkait rekaman yang diperdengarkan untuk publik pada siang harinya.
Lepas dari soal status Anggodo yang katanya bukan tersangka, walaupun kabarnya sampai saat saya posting ini dia masih di Mabes Polri ada satu hal menarik yang bisa disoroti. Yap peran TVOne yang berhasil mewawancarai Anggodo secara eksklusif di Kabar Petang tersebut, selama ini dari pengamatan saya sebagai penonton, TVOne selalu berusaha menciptakan citra ekslusif dalam setiap liputannya, pertama kali saya citra itu muncul seingat saya ketika salah satu reporter senior mereka Ecep S Yasa melaporkan eksekusi trio bomber Bom Bali I tengah malam buta akhir tahun lalu. Sejak saat itu semakin kuat saja upaya meraih citra televisi yang serba pertama, seperti saat menyiarkan rekaman CCTV bom Marriot dan Ritz Carlton, liputan tentang Gempa Padang dan yang terakhir wawancara eksklusif dengan pengusaha Anggodo Wijoyo itu.
Tentang Majalah Tempo dan Kabinet
Hemm, sebenarnya apa yang akan saya tulisa juga sudah jelas, eh tapi sebelumnya saya jelaskan dulu tentang apa yang akan saya tulis kali ini. Ini berawal dari ketika Ayah saya membeli Majalah Tempo edisi 19-25 Oktober 2009 dengan tema besar “Kabinet : Harapan dan Kenyataan”, seperti biasa Tempo yang merupakan majalah favorit saya akan mengulas secara mendalam tentang kabinet Indonesia bersatu II. Karena yang beli bukan saya otomatis harus gantian bacanya
, nah kebetulan waktu itu belinya hari senin tanggal 20 oktober, 2 hari sebelum pengumuman menteri-menteri.
Nah yang jadi uneg-uneg saya di sini adalah karena majalah ini sepertinya kurang tepat dalam konten, memang sih isi liputannya adalah prediksi siapa yang bakal mengisi pos-pos menteri, namun saya lihat banyak yang tidak cocok dengan apa yang diumumkan SBY (terlepas dari kontroversi penunjukkan beberapa nama menjadi menteri). Jujur, saya yang awalnya tadi hendak membaca majalah ini, menjadi malas juga karena majalah ini hadirnya mepet sekali dengan pengumuman nama menteri, 19 terbit 21 diumumkan ahh rasanya kurang berdebar-debar
Yaa, sebenarnya bisa dimaklumi sih, karena Tempo adalah Majalah bukan koran yang harian, televisi yang tiap jam, menit bahkan detik. Sehingga sebagai sebuah majalah ya mereka mengandalkan pada konten yang mendalam dan berbeda. Namun sebenarnya buat saya agak janggal juga, misalnya saja edisi ini diterbitkan seminggu sebelumnya, saya yakin akan tetap punya gereget (paling tidak seminggu).
Bisa dibilang inilah resiko media seperti majalah, tabloid dan buletin serta media lain yang terbitnya tidak setiap hari. Mereka harus pandai-pandai mencari, menggali dan mengkaji apakah sebuah peristiwa layak dijadikan tema besar medianya dan kalau iya? dari sudut pandang seperti apa? Dalam konteks Tempo edisi Kabinet ini saya melihat kurang pas saja, memang aktual namun jadi kurang tajam karena hadirnya mepet sekali dengan pengumuman menteri kabinet.
“Enak dibaca dan perlu” yang merupakan slogan Tempo akan terasa lebih pas kalau di edisi ini tepat munculnya, sehingga pembaca merasa benar-benar perlu membacanya
Dari World Media Summit 2009 Beijing Untuk Para Blogger
Awal bulan Oktober ini, tepatnya pada tanggal 9-10 Oktober lalu diadakan konferensi pemilik dan CEO media di seluruh dunia di Beijing, China. Sekitar 135 perwakilan media dari 70 negara hadir dalam acara yang bisa dibilang spektakuler itu. Ada beberapa topik yang dibahas dalam acara yang juga dihadiri orang-orang media di Indonesia seperti dari Jawa Pos Group, Kompas Gramedia dan kantor berita ANTARA, antara lain respon media terhadap krisis keuangan, tantangan dan peluang di era digital dan multimedia, dampak teknologi terhadap perkembangan media dan perubahan cara kerja di dapur redaksi dan munculnya superjurnalis yang memproduksi tidak hanya teks, tapi juga foto, audio dan video.
Nah ada satu topik nih yang cukup menarik untuk kita para blogger, yakni tentang tantangan dan peluang di erda digital dan multimedia. Dalam salah satu sesi diskusi dengan topik tersebut dibahas pula bagaimana blog, microblogging dan situs pertemanan telah mengalahkan media konvensional, tidak hanya media cetak tetapi juga media news wire online seperti Associated Press dalam hal kecepatan menyajikan berita. “Sejak Facebook dan Twitter marak, kerap terjadi ketika sebuah peristiwa meletus dan kami belum lagi melakukan reportase, beritanya sudah muncul di situs pertemanan.” Ungkap Presiden AP (Associated Press) Thomas Curley, seperti dikutip dari riaupos.com.
Mohon Dukungan di XL Blog Award
Teman-teman pembaca blog Zona Jazz Lover sekalian, Alhamdulillah blog saya terpilih dalam XL Blog Award di Pesta Blogger 2009. Blog saya ini terpilih sebagai 5 nominator untuk kategori jurnal harian dan umum terbaik, Sekali lagi Alhamdulillah *wajah bahagia* hehe. Untuk itu saya minta dukungan teman-teman semuanya ya, vote blog saya ya.
Caranya mudah :
1.Klik pestablogger.com
2.Klik Banner XL Award Pestablogger.com Pesta Blogger 2009
3.Cari Kategori Jurnal Harian & Umum Terbaik (Scroll ke bawah)
4.Vote Now! pada Nama Eka Nugraha Putra (ekajazzlover.wordpress.com)
Voting sampai 24 Oktober 2009 Mendatang,
Saya tunggu dukungannya ya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih
Mungkinkah Lebih Baik Miyabi Yang Datang Kemari?
Oke, mungkin pro kontra tentang kedatangan miyabi akan selalu ada dan setahu saya sampai saat ini masih menjadi perdebatan panjang. Terakhir kali saya menontonnya di televisi (lewat sebuah infotainment yang katanya “tajam” itu) FPI (Front Pembela Islam) dengan tegas menolak kedatangan Miyabi. Dalam tayangan tersebut direkam pula gambar beberapa media cetak, salah satunya Meutia Hatta Menteri Pemberdayaan Perempuan kita yang juga menolak kedatangan Miyabi, tak hanya FPI dan Menteri masih banyak lagi suara-suara penolakan (bahkan saya pernah menemukan sebuah polling di internet tentang setuju atau tidak bila wanita jepang ini datang ke Indonesia). Meskipun begitu setahu saya banyak juga yang mendukung kedatangan Miyabi.
Silahkan anda anggap saya pro kalau saya memilih judul di atas, buat saya tidak jadi masalah dia datang kemari, karena menurut produsernya kan dia maunya main film komedi. Lagi pula mana mungkin dia berani main film yang biasa dia mainkan di Jepang sewaktu kedatangannya ke Indonesia? Lha wong film-film Indonesia yang bertema komedi dewasa aja masih bebas keluyuran di bioskop (yang entah siapa yang nonton), ini kan aneh film Indonesia yang seperti itu minim reaksi penolakan, pas Miyabi mau datang dengan tujuan main film komedi malah ditolak habis-habisan. Mencla-menclekah kita? Entahlah…
Dilema Nurani Pekerja Kemanusiaan
Judul postingan di atas sengaja saya pilih karena saya terinspirasi beberapa hal dalam membuat postingan ini, beberapa hal tersebut adalah :
1. Acara Talkshow Dewan Pers Kita Senin lalu (28/9) di TVRI dengan tema “Peranan Pers dan Manajemen Bencana”
2. Kolom “Klinik Fotografi” Arbain Rambey di Harian Kompas edisi Selasa (29/9) yang membahas Foto legendaris Kevin Carter
3. Diskusi saya dengan Mas Iman Nugroho dari AJI dan teman-teman persma sekitar setahun lalu seusai mengikuti seminar bertemakan media massa menghadapi Pemilu 2009
Ketiganya menginspirasi saya untuk membuat tulisan berikut dimana memang selama ini sepanjang pengetahuan saya profesi jurnalis akan selalu dihadapkan pada momen yang menimbulkan pertempuran hati (meminjam judul lagu netral hehe) tentang apakah harus meliput atau menolong ketika ada sebuah musibah yang dilihatnya saat itu. Mana yang akan didahulukan? insting jurnalis atau nuraninya untuk menolong?












