Zona Jazz Lover

Zona Tulisan Kritis dan Humanis dari seorang Jazz Lover

KENAPA HARUS MUNIR?

with 3 comments

Kalau bicara HAM? Kenapa sih Mas harus bicara soal Munir?

Pertanyaan itu terlontar ketika saya dengan menyantap makan malam bersama Mas Rudy Gunawan jurnalis VHR Media ketika sesi istirahat Workshop Blogger VHR Media dan Seacem 25 Juni 2009 lalu. Obrolan tentang HAM yang saya awali dengan pertanyaan itu berawal dari cerita beliau ketika mengadakan teater penghormatan kepada Munir di Malang beberapa bulan setelah kematiannya yang misterius. “Sempet nonton ndak waktu itu Ka?” tanyanya yang malam itu tanpa kacamata. “Wah ndak mas” jawab saya. Kemudian mengalirlah pertanyaan di awal tadi dan uneg-uneg saya mengenai masalah HAM yang seolah tercitrakan Munir-lah ikon HAM Indonesia.

Uneg-uneg saya tadi bukan tanpa sebab, jujur saya memang tidak begitu mengenal Munir sebagai seorang tokoh pergerakan atau aktivis meskipun dia adalah bagian dari almamater kampus saya. Saya hanya mengenal sedikit tentang Munir, khususnya perannya dalam upaya pencarian 14 orang aktivis yang hilang pada 1998 lewat KONTRAS. Di luar itu, jujur saya tidak tahu. Namun ketidaktahuan itu bukan semata-mata saya tidak mengapresiasi perannya dalam penegakan HAM di Indonesia, sebuah seminar beberapa waktu yang lalu di kampus-lah yang menyebabkan pertanyaan awal tadi muncul dalam benak saya. Seminar yang temanya seputar kesiapan capres dalam Pilpres 2009 tentang penegakan HAM justru kebanyakan menampilkan Munir, sejak awal seminar sudah diputarkan film tentang Munir, salah satu pembicara pada seminar tersebut juga keluarga Munir (yang menurut saya tidak relevan dengan tema seminar). Pada saat seminar itulah kebingungan saya mulai tumbuh, kenapa harus Munir?

Ketika saya menanyakan kepada Mas Rudy Gunawan yang malam itu memang mengenakan kaos berkerah bergambar wajah Munir di dada sebelah kiri. Ia juga menceritakan hal yang sama, dimana ketika ia mementaskan teater tersebut di Malang justru para penonton Malang yang paling keras reaksinya, kenapa harus Munir? Mas Rudy yang berambut panjang, mungkin sepanjang lika-liku penegakan HAM di Indonesia mengungkapkan apa yang dilakukannya adalah bentuk apresiasi terhadap perjuangan mereka, bukan masalah menokohkan atau menciptakan ikon. Mas Rudy juga menambahkan bahwa ia tidak menafikan peranan tokoh-tokoh lainnya yang mungkin sekeras atau bahkan lebih keras dibandingkan Munir. “Kalau mau ditarik ke belakang, ada Wiji Thukul yang juga diperjuangkan kasusnya oleh Munir.” Lanjut Mas Rudy. Ketika di Malang ia juga balik berkata bahwa apabila di antara penonton yang berdiskusi ada yang meninggal dan punya peran yang penting dalam penegakan HAM Indonesia, maka tak segan-segan ia melaksanakan aksi serupa.

Berbicara HAM memang tidak akan ada habisnya, contoh HAM yang paling kecil saja ada seperti misalnya hak asasi seorang ibu yang ingin menghirup udara segar hilang karena asap rokok yang dihembuskan pria perokok di dekatnya, tapi kalau dilarang ibu itu juga mengurangi hak asasi merokok pria tersebut, rumit bukan? Akhirnya Obrolan itu berakhir beberapa saat setelah suapan nasi goreng, menu malam itu habis saya telan.  Mas Rudy sempat menambahkan bahwa ketimbang protes mengenai siapa yang pantas menjadi ikon HAM lebih baik kita melakukan sesuatu sebagai bentuk sumbangsih untuk negara, khususnya masalah HAM. Kalimat terakhir Mas Rudy itu ada benarnya dan saya berpikir apakah saya sendiri sudah pernah melakukan sesuatu tentang HAM? Ah siapa saya ini, cuma mahasiswa biasa. Makan malam itu berakhir dan saya kembali ke ruangan pelatihan untuk mengikuti sesi selanjutnya, masalah HAM itu terlupakan sejenak. Namun saya harap tidak akan terlupakan selamanya, karena itu saya abadikan dalam catatan kecil ini.

Written by Eka Nugraha

Juli 2, 2009 pada 12:48 pm

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kasus Munir memang belum tuntas. dan dariya kita bisa berkaca sejauhmana kemajuan berbagai penyelesaian kasus2 HAM di Indonesia. atau mungkin karenanya juga, kita cenderung menganggap HAM sebagai sesuatu yang besar dan rumit, padahal ya itu tadi, aku sepakat denganmu, Ka.. konteks HAM pun bisa kita jumpai dengan mudah di sekitar kita. nice post!

    Bogorbiru

    Juli 4, 2009 at 4:23 am

  2. Yap benar, kenyataannya sebenarnya HAM tidak harus sesuatu yang besar, bisa tentang hak orang merokok dan hak orang menghirup udara segar itu kan juga termasuk HAM to?

    Eka Nugraha

    Juli 4, 2009 at 11:41 am

  3. negeri ini terlalu banyak korupsi, termasuk juga korupsi pada hak rakyat. ketika ada orang yang berani tuk mengingatkan (kritik), sebelum rakyat sadar akan hak nya segera orang tersebut di eliminasi.

    nice post..

    kitong

    Juli 11, 2009 at 9:47 am


Tinggalkan Balasan