Archive for November 2009
Ayo Jadi Penulis Hebat!
Entah mengapa, sejak masuk ke dalam dunia pers mahasiswa di kampus tempat saya menuntut ilmu saya memiliki cita-cita baru : Menjadi Penulis! Cita-cita saya yang satu ini memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmu yang sedang saya pelajari saat ini, maksudnya kalau saya lulus dari Fakultas Hukum tentu bidang pekerjaan saya tidak berhubungan dengan dunia tulis-menulis.
Meskipun begitu, cita-cita tersebut tidak saya kubur begitu saja, dengan mendalami jurnalistik di organisasi pers mahasiswa saya mencoba memelihara cita-cita sambil terus belajar menjadi penulis yang baik, maka dari situlah saya mencoba selalu mengambil kesempatan menulis yang ada. Berbagai pelatihan dan lomba yang berhubungan dengan penulisan saya ikuti, saya sendiri juga belajar tentang cara menulis yang baik dengan menjelajah di dunia maya. Dari hasil pembelajaran secara otodidak inilah saya kemudian mengenal Pak Jonru, pendiri website penulislepas.com dan sekolahmenulisonline.com kursus menulis di dunia maya pertama di Indonesia. Pak Jonru mungkin bukan seorang penulis yang paling terkenal di Indonesia namun bisa dikatakan sebagai penulis paling terkenal di Internet.
Coklat Itu Tak Pernah Manis Untuk Bu Minah
Rasa makanan favorit saya itu tak akan pernah jadi manis untuk seorang Ibu petani asal Dusun kecil bernama Sidoharjo di Banyumas, Jawa Tengah. Karena dari bahan dasar makanan yang banyak digemari anak kecil itulah Ibu berusia 55 tahun itu harus menghadapi Korps berbaju coklat, sebelum akhirnya dibawa ke meja hijau.
Miris hati saya begitu membaca berita utama di Harian Kompas (20/11) yang berjudul “Elegi Minah dan Tiga Buah Kakao di Meja Hijau…”, masih belum selesai keruwetan kasus KPK, Polri, Kejaksaan Agung dan Bank Century, jauh dari hiruk-pikuk Ibu Kota ternyata ada peristiwa yang memilukan. Bagaimana tidak? Ketika seorang Ibu berusia 55 tahun yang buta huruf harus menghadapi persidangan tanpa didampingi pengacara hanya karena tiga buah kakao yang dipetiknya, si Ibu pun mengaku sudah meminta maaf bahkan mengembalikan buah tersebut. Namun itu dirasa belum cukup hingga pihak PT Rumpun Sari Antan (RSA) pemilik perkebunan kakao harus melaporkan Ibu yang bahasa Jawanya ngapak ini (logat khas Banyumas).
Bank Mandiri dan Senyum Tulus Itu
Berawal dari kerepotan saya setiap kali menerima honor menulis, saya bingung dimana menyimpan uang honor yang buat saya pribadi jumlahnya cukup lumayan. Parahnya lagi, terkadang uang honor itu habis sebelum waktunya saya simpan (Betapa borosnya!).
Atas pertimbangan itulah saya memutuskan untuk menyimpan uang tersebut di bank, telat ya? hahaha saya pribadi memang sering terlambat dalam beberapa hal yang penting untuk masa depan, kayak misalnya terlambat mengurus KTP (Saya baru punya KTP di usia 22 tahun). Namun bukan berarti telat mikir hehe.
Singkat cerita, saya pun berangkat menuju Bank Mandiri, saya putuskan memilih Bank Mandiri karena rekomendasi dari beberapa teman. Tepatnya tanggal 30 Oktober lalu saya menuju kantor Bank Mandiri di Alun-Alun kota Malang dan mengurus pembukaan rekening saya. Kemarin tanggal 13 November saya juga kembali ke sana untuk mengambil kartu ATM.
Setelah dua kali ke sana, saya merasakan kesan yang sangat menyenangkan dari pelayanan bank ini, kesan itu saya dapat dari pelayanan para Customer Service Representative mereka. Entah saya yang ndheso atau memang begitu pelayanannya namun saya merasa nyaman di sana, ketika datang saya tak perlu antri berdiri, Pak Satpam menyediakan nomor antrian untuk saya dan saya bisa duduk di kursi yang ada, ketika tiba giliran saya, Customer Service Representative yang namanya Mbak Lia itu menjabat tangan saya dan mengenalkan namanya (sesuatu yang setahu saya tidak ada di Bank lain), bahkan Mbak Lia ini bercerita pada saat itu dirinya sedang batuk sehingga suaranya serak (halah lebay hehe), pun begitu ketika Mbak Lia yang kelihatannya senior ini ditanyai oleh rekan-rekannya, ia dan rekannya yang minta ijin pada saya untuk menunggu. Hemm sopan sekali
Intinya saya merasa senang sebagai nasabah diperlakukan begitu, buat saya Bank Mandiri telah melakukan pelayanan dan penghargaan terhadap nasabahnya dengan sangat baik, ya saya yakin bank lain juga begitu namun dari sekian bank yang pernah saya masuki rasanya kok Bank Mandiri membuat saya berpikir pelayanan dan senyum mereka tulus sekali ya? Atau sayanya yang ndheso? Bagaimana menurut anda?
Anggodo dan Eksklusifivitas Televisi
Sebuah kejutan hadir 2 hari lalu (3/11), ketika Anggodo Wijoyo hadir di TVOne untuk diwawancarai seputar transkrip rekaman yang diputar di sidang MK siang harinya, rekaman yang untuk pertama kalinya diperdengarkan ke hadapan publik ini sangat mencengangkan karena melibatkan nama-nama beberapa pejabat negara, bahkan nama SBYpun disebutkan dalam rekaman tersebut.
Usai wawancara di TVOne itu, Anggodo sudah ditunggu wartawan dari media lain dan kepolisian, dari sinilah kehebohan dimulai karena setelah konferensi pers dengan berbagai media tersebut, Anggodo dijemput oleh Polisi menuju Mabes Polri dan menjalani pemeriksaan terkait rekaman yang diperdengarkan untuk publik pada siang harinya.
Lepas dari soal status Anggodo yang katanya bukan tersangka, walaupun kabarnya sampai saat saya posting ini dia masih di Mabes Polri ada satu hal menarik yang bisa disoroti. Yap peran TVOne yang berhasil mewawancarai Anggodo secara eksklusif di Kabar Petang tersebut, selama ini dari pengamatan saya sebagai penonton, TVOne selalu berusaha menciptakan citra ekslusif dalam setiap liputannya, pertama kali saya citra itu muncul seingat saya ketika salah satu reporter senior mereka Ecep S Yasa melaporkan eksekusi trio bomber Bom Bali I tengah malam buta akhir tahun lalu. Sejak saat itu semakin kuat saja upaya meraih citra televisi yang serba pertama, seperti saat menyiarkan rekaman CCTV bom Marriot dan Ritz Carlton, liputan tentang Gempa Padang dan yang terakhir wawancara eksklusif dengan pengusaha Anggodo Wijoyo itu.








